Kamis, 08 November 2012

Konsep Masyarakat dan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

       Konsep Masyarakat adalah segenap tingkah  laku  manusia yang di anggap sesuai. Tidak melanggar norma-norma umum dan adat istiadat serta terintegrasi langsung dengan tingkah laku umum. Masyarakat menurut definisi kamus dewan ialah kumpulan manusia yang hidup bersama di sesuatu tempat dengan aturan dan cara tertentu. Individu, keluarga dan kumpulan-kumpulan kecil merupakan anggota sesebuah masyarakat. Jaringan erat wujud dalam kalangan anggota tersebut, khususnya melalui hubungan bersemuka. Daripada pergaulan ini, terbina pola hubungan sosial yang berulang sifatnya seperti kegiatan gotong royong, bersama-sama merayakan sesuatu perayaan melalui rumah terbuka, berkumpul menyambut pembesar yang datang berkunjung, menghadiri kendui majlis perkahwinan, membantu mereka yang ditimpa malapetaka yang sakit atau yang telah meninggal dunia. Kekerapan pergaulan ini membina satu kesepaduan dalam masyarakat tersebut sebagai satu unit sosial.


BAB II
PEMBAHASAN

II.1.  Konsep Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan individu yang mengadakan kesepakatan bersama untuk secara bersama-sama mengelola kehidupan. Terdapat berbagai alasan mengapa individu-individu tersebut mengadakan kesepakatan untuk membentuk kehidupan bersama. Alasan-alasan tersebut meliputi alasan biologis, psikologis, dan sosial. Pembentukan kehidupan bersama itu sendiri melalui beberapa tahapan yaitu interaksi, adaptasi, pengorganisasian tingkah laku, dan terbentuknya perasaan kelompok. Setelah melewati tahapan tersebut, maka terbentuklah apa yang dinamakan masyarakat yang bentuknya antara lain adalah masyarakat pemburu dan peramu, peternak, holtikultura, petani, dan industri. Di dalam tubuh masyarakat itu sendiri terdapat unsur-unsur persekutuan sosial, pengendalian sosial, media sosial, dan ukuran sosial. Pengendalian sosial di dalam masyarakat dilakukan melalui beberapa cara yang pada dasarnya bertujuan untuk mengontrol tingkah laku warga masyarakat agar tidak menyeleweng dari apa yang telah disepakati bersama. Walupun demikian, tidak berarti bahwa apa yang telah disepakati bersama tersebut tidak pernah berubah.
Apa yang menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat adalah kebudayaan, yang antara lain diartikan sebagai pola-pola kehidupan di dalam komunitas. Kebudayaan di sini dimengerti sebagai fenomena yang dapat diamati yang wujud kebudayaannya adalah sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari serangkaian tindakan yang berpola yang bertujuan untuk memenuhi keperluan hidup. Serangkaian tindakan berpola atau kebudayaan dimiliki individu melalui proses belajar yang terdiri dari proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.

Konsep Masyarakat adalah segenap tingkah laku manusia yang di anggap sesuai. Tidak melanggar norma-norma umum dan adat istiadat serta terintegrasi langsung dengan tingkah laku umum. Dan dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batasan-batasan tertentu. Setiap masyarakat pula mempunyai budayanya yang tersendiri yang terbentuk daripada hubungan rapat sesama anggotanya semenjak masyarakat itu wujud.
II. 2.  Komunitas (community)
Komunitas adalah satu kesatuan hidup manusia (kumpulan dari berbgagai populasi) yang menempati suatu wilayah yang nyata dan berintegrasi menurut sistem adat istiadat dan terikat oleh rasa identititas komunitas. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
Komunitas, menurut John Dewey, terbangun dari ikatan-ikatan (commonalities) yang secara rumit saling terkait melalui komunikasi. Masyarakat tidak terus ada karena penyebaran, karena komunikasi, tetapi cukup layak jika dikatakan bahwa masyarakat terwujud dalam komunikasi. Ikatan-ikatan, dalam bentuk seperi ‘tujuan, kepercayaan, dan pengetahuan’, adalah keharusan bagi terbentuknya komunitas, dan terbangun melalui komunikasi. Dalam konsepsi Dewey, komunikasi dan cara-cara di mana komunikasi dilakukan adalah krusial bagi pembentukan komunitas, dan kita bisa menyimpulkan juga bahwa ‘kualitas’ komunikasi menyatu dengan kualitas komunitas tersebut (John Dewey, 1916: 4).
Komunitas dapat terbentuk oleh empat faktor : komunikasi dan keinginan berbagi (sharing): Para anggota saling menolong satu sama lain, tempat yang disepakati bersama untuk bertemu, ritual dan kebiasaan: Orang-orang datang secara teratur dan periodik, influencer: influencer merintis sesuatu hal dan para anggota selanjutnya ikut terlibat. Dalam komunitas juga terdapat beberapa aturan sendiri, yaitu saling berbagi (share), komunikasi, transparasi dan kejujuran, serta partisipasi (dari anggota komunitas tersebut)
Kriteria dimensi komunitas/community
·     Sekelompok orang (A group of people)
·     Berbagi interaksi sosial (Shared social interaction)
·     Ikatan yang biasa di antara anggotanya (Common ties among members)
·     Orang yang berbagi suatu area pada beberapa perioda waktu (People who share an area for some period of time)

II.3.   Konsep - Konsep tentang Realitas Sosial Budaya
Berikut ini beberapa realitas sosial budaya yang terdapat di masyarakat.
1)      Masyarakat
Adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah tertentu dan membina kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma sosial terntentu dalam waktu yang cukup lama.
2)      Interaksi Sosial 
Adalah hubungan dan pengaruh timbal balik antarindividu,antara individu dari kelompok dan antarkelompok.
3)      Status dan Peran
Status adalah posisi seseorang dalam masyarakat yang merupakan aspek masyarakat yang kurang lebih bersifat statis. Peran merupakan pola tindakan dari orang yang memiliki status tertentu dan merupakan aspek masyarakat yang kurang lebih bersifat dinamis.
4)      Nilai
Nilai itu adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh anggota masyarakat dan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan.Pergeseran nilai akan mempengaruhi kebiasaan dan tata kelakuan.

5)      Norma
Norma merupakan wujud konkret dari nilai sosial,dibuat untuk melaksanakan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang telah dianggap baik dan benar.
6)      Lembaga Sosial
Menurut Paul B.Horton dan Chester L Hunt,lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir dan mewujudkan nilai-nilai dan tata cara umu tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.Lembaga merupaka satu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan yang oleh masyarakat dianggap penting.
7)      Sosialisasi
Sosialisasi merupakan proses individu belajar berinteraksi di tengah masyarakat.Melalui proses sosialisasi ,seorang individu akan memperoleh pengetahuan,nilai-nila dan norma-norma yang akan membekalinya dalam proses pergaulan.
8)      Perilaku Menyimpang
Merupakan bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku.
9)      Pengendalian Sosial
Setiap masyarakat menginginkan adanya suatu ketertiban agar tata hubungan antarwarga masyarakat dapat berjalan secara tertib dan lancar,untuk kepentingan ini masyarakat membuat norma sebagai pedoman yang pelaksanaannya memerlukan suatu bentuk pengawasan dan pengendalian.
10)  Proses Sosial
Proses sosial merupakan proses interaksi dan komunikasi antarkomponen masyarakat dari waktu ke waktu hingga mewujudkan suatu perubahan.Dlama suatu proses sosial terdapat komponen-komponen yang saling terkait satu sama lain,yaitu:
a.         Struktur sosial,yaitu susunan masyarakat secara komprehensif yang menyangkut individu ,tata nilai,dan struktur budayanya.
b.         Interaksi Sosial,yaitu keseluruhan jalinan antarwarga masyarakat.
c.         Struktur alam lingkungan yang meliputi letak,bentang alam,iklim,flora dan fauna.Komponen isi merupakan salah satu komponen yang turut mempengaruhi bagaimana jalannya proses sosial dalam suatu masyarakat.
11)  Perubahan Sosial Budaya
Adalah perubahan struktur sosial dan budaya akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsurnya sehingga memunculkan suatu corak sosial budaya baru yang dianggap ideal.
12)  Kebudayaan
Adalah semua hasil cipta,rasa dan karsa manusia dalam hidup bermasyarakat.Dalam arti luas,kebudayaan merupakan segala sesuatu yang ada di muka bumi yang keberadaannya diciptakan oleh manusia.Dibentuk oleh:
a. artefak,yaitu benda hasil karya manusia
b. sistem aktivitas,seperti berbagai jenis tarian,olahraga,kegiatan sosial,ritual
c. sistem ide atau gagasan,yaitu pola pikir yang ada di dalam pikiran manusia.

II.4.   Perbedaan Konsep Masyarakat dan Komunitas
Masyarakat adalah istilah umum bagi suatu kesautan hidup manusia dan karena itu bersifat lebih luas daripada istilah komunitas. Komunitas lebih bersifat khusus karena ciri tambahan ikatanlokasi dan kesadaran wilayah. Namun demikian, ”komunitas” masuk dalam kedalam masyarakat sebagai salah satu wujud kesatuan manusia yang menekankan aspek lokasi hidup dan wilayah, sementara wujud yang lain adalah ”kelompok” yang menekankan aspek organisasi dan pimpinan dari suatu kesatuan manusia. Konsep yang hampir sama dengan ”kelompok” adalah ”perkumpulan” namun tidak masuk dalam kategori masyarakat. Ada tiga wujud kesatuan manusia yang lain, yang tidak disebut sebagai masyarakat, yaitu ”kerumunan”, ”kategori sosial”, dan ”golongan sosial”.


A.  Kerumunan (crowd)
Le Bon dalam bukunya The Crowd: A study of the Popular Mind (judul asli: La Foule, 1985) berpendapat bahwa dalam pengertian sehari-hari istilah kerumunan berarti sejumlah individu yang berkumpul bersama, namun dari segi psikologis istilah kerumunan mempunyai makna sekumpulan orang yang mempunyai ciri baru yang berbeda yaitu berhaluan sama dan kesadaran perseorangan lenyap dan terbentuknya satu makhluk tunggal kerumunan terorganisasi (organized crowd) atau kerumunan psikologis (psychological crowd). Kerumunan merupakan sekumpulan orang berjumlah relatif besar yang bersifat sementara diamana perkumpulan itu disebabkan oleh sebuah kejadian, dan orang-orang tersebut memberikan reaksi yang sama terhadap rangsanga kejadian tersebut. Dalam kerumunan juga bisa terjadi interaksi, tetapi belum bisa dikatakan sebagai masyarakat. Hal ini disebabkan dalam kerumunan tidak terdapat suatu ikatan khusus (yang merupakan sayarat dari sebuah masyarakat), yiatu berupa pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupannya, yang mana pola itu bersifat mantap dan kontinyu; telah menjadi adat-istiadat yang khas.
Suatu kerumunan manusia mengandung sifat-sifat psikologis tertentu yang dapat dipergunakan orang lain untuk maksud-maksud positif dan negatif. Suatu kerumunan manusia dapat dibuat emosional, misalnya dengan suatu pidato yang berkobar-kobar, kemudian diajak untuk mengadakan demonstrasi.
B.   Kategori Sosial (social category)
Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terwujdukan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri obyektif yang dapat dikenakan kepada masing-masing manusia itu.
Sebagai contoh adalah dalam masyarakat ada suatu kategori orang yang memilik mobil dan yang tidak memilik mobil, dengan maksud untuk menentukan siapa-siapa saja yang harus membayar sumbangan wajib dan siapa-siapa sja yang bebas dari sumbangan itu. Contoh lain adalah dalam suatu negara ditentukan melalui hukum bahwa ada kategori orang-orang yang berumur diatas 18 tahun dan ada orang-orang yang berumur dibawah 18 tahun, untuk membedakan warganegara yang telah memiliki hak pilih dan warganegara yang belum mendapat hak pilih dalam Pemilu.
Dalam kategori sosial tidak ada adat, sistem nilai, atau norma tertentu yang mengikat. Kategori sosial juga tidak memiiki lokasi, organisasi dan pimpinan.
C.   Golongan Sosial
Golongan sosial adalah kesatuan manusia yang terwujud karena suatu ciri yang dikenakan kepada masyarakat yang bersifat spesifik dari pihak luar.
Sebagai contoh adalah golongan Negro atau Blacks dalam masyarakat Negara Amerika Serikat terjadi karena cirri-ciri ras yang tampak pada mereka membedakan mereka dari warganegara Amerika Serikat lain yang mempuyai ciri-ciri ras Kaukasoid. Mereka (orang-orang Negro itu) mempunyai rasa identitas sosial sebagai suatu golongan khusus karena dalam masyarakat mereka didiskriminasi dengan pandangan stereotipe yang biasanya merendakhan mereka.

BAB III
PENUTUP

III.1.    Kesimpulan
Masyarakat adalah istilah umum bagi suatu kesautan hidup manusia dan karena itu bersifat lebih luas daripada istilah komunitas. Komunitas lebih bersifat khusus karena ciri tambahan ikatanlokasi dan kesadaran wilayah. Namun demikian, ”komunitas” masuk dalam kedalam masyarakat sebagai salah satu wujud kesatuan manusia yang menekankan aspek lokasi hidup dan wilayah, sementara wujud yang lain adalah ”kelompok” yang menekankan aspek organisasi dan pimpinan dari suatu kesatuan manusia. Konsep yang hampir sama dengan ”kelompok” adalah ”perkumpulan” namun tidak masuk dalam kategori masyarakat.

III.2.   Kritik dan saran
Demi menyempurnakan makalah ini agar tidak terdapatnya kesalahan, maka kami mengharapkan saran, kritikan maupun partisipasinya yang dapat membantu dalam kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA



Budiman, Maneke 1999. ‘Jati Diri Budaya dalam Proses Nation Building di Indonesia: 


Kleden, Ignas.1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3 Es.   
       
Mengubah       Kendala Menjadi Aset’, Jurnal Wacana FSUI.No.1 April 1999. Vol 1. hal. 3

Roeder, O.G. 1987. Indonesia. A Personal Introduction. Jakarta : Gramedia.

Soeparmo, dkk. 1986. Pola Berpikir Ilmuwan dalam Konteks Sosial Budaya Indonesia. Surabaya: Unair Press.

Tim Lembaga Riset Kebudayaan. 1986. Kapita Selekta Manifestasi Budaya Indonesia. Bandung: Alumni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar